
Dewasa ini banyak sekali remaja yang sudah terjerumus dalam jurang kesesatan. Akan tetapi, mereka hampir tidak mempedulikanya. Memang benar, hal yang paling menakutkan bagi remaja dalam pergaulan bebas mereka adalah masalah kehamilan dan penyakit menular. Sehingga, saat pacaran mereka begitu selektif dan ketat supaya tidak terjadi apa yang disebut dengan kehamilan atau tertular penyakit seksual. Tapi teman remaja lupa, bahwa akar masalahnya justru aktivitas pacarannya itu. Coba, dua insan berlainan jenis yang sedang dimabuk asmara, pasti menginginkan untuk selalu bersama. Apabila rumahnya jauh, mereka hanya memencet angka di HP-nya saja. Lalu tertawa melepas kerinduan, bahkan tak heran mereka membicarakan hal-hal tentang pergaulan mereka. Dan bila ada kesempatan, langsung membuat janji untuk bertemu. Pada akhirnya, jangan harap kamu bisa mengendalikan diri.
Sebelum beranjak ke faktor-faktor, sebaiknya menjelaskan apa arti dari pacaran itu sendiri. Pada hakikatnya pacaran tidak diperbolehkan di agama. Selain itu, pacaran mendekati zina.
Tuduh-menuduh atau tuding-menuding tentang siapa yang harus bertanggung-jawab, boleh-boleh saja. Namun ingat, kita harus teliti dan jangan asal tuduh. Tapi yang pasti, pacaran sudah menjadi gaya hidup remaja. Benar, sepertinya kalau tidak melakukan itu takut dianggap kuno. Maka jangan heran bila semua media massa memberikan gambaran yang dibutuhkan dan harus dijalani kaum remaja, dan pacaran adalah salah satunya Perlu diketahui, bahwa anak gadis di sana, pada usia 17 diberikan kebebasan oleh ortunya untuk bergaul dengan teman pria mereka dengan sesuka mereka. Yang penting jangan mengkonsumsi narkoba atau berbuat kriminal.
Dengan begitu, angka seks bebas di negara yang emang membiarkan terjadi begitu terbukti tinggi. Sebagai contoh, dari data yang didapat PBB mengatakan bahwa lebih dari 80% siswa SMU di Cina pernah melakukan hubungan seks bebas. Celakanya lagi, mereka menganggap bahwa hal itu adalah hal yang biasa. Malah ada yang menyetujui hubungan itu. Menurut hasil survei PBB ada 30,4% yang setuju dengan seks bebas dan 47,8% yang berpikir hal itu bisa dimaklumi.
Itu bisa terjadi bila hubungan antara dua lawan jenis ini begitu dekat dan lengket. Sebab, tidak mungkin terjadi hal itu bila hubungannya terjaga dengan benar dan baik. Sementara dalam pacaran, kamu tahu sendiri bagaimana aktivitasnya? Liar! Begitulah gambaran perbuatan yang mendekati dengan perzinaan. Dan sudah jelas bahwa aktivtas zina itu adalah haram. Firman Allah Swt:
وَلاَ تَقْرَبُوا الزِّنَا إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاءَ سَبِيلاً
“Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk.” (QS al-Isrâ [17]: 32
Nikah dipersulit, gaul bebas dipermudah. Seringkali manusia suka terbalik dalam menilai suatu perbuatan. Sebab, yang jadi patokan mereka dalam berbuat cuma mengandalkan perasaan dan tidak mau menggunakan akalnya. akhirnya, sering dibuat pusing oleh keputusannya sendiri. Dalam masalah pergaulan bebas, masyarakat suka menilai bahwa baik dan buruknya suatu perbuatan hanya dilihat dari apakah perbuatan itu menguntungkan baginya secara materi atau tidak. Itu salah besar. Sebab, yang kita anggap baik, belum tentu baik dalam pandangan Allah. Dan begitupun sebaliknya. Firman Allah Swt:
وَعَسَى أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ وَعَسَى أَنْ تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَكُمْ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لاَ تَعْلَمُونَ
“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui” (QS al-Baqarah [2]: 216).
Ini memang aneh, nikah yang memang ada syariatnya dipersulit, tapi gaul bebas dipermudah. Buktinya, sarana untuk gaul bebas terus diciptakan dan dipermudah aksesnya. Kalau dipikir secara logis ibadah yang ingin kita lakukan dipersulit tapi, kalau mau mejalankan maksiat selalu dipermudah. Kalau untuk nikah saja kita harus mengurus beragam administrasi. Selain itu kita masih dihadang dengan peraturan pemerintah yang membatasi usia pernikahan dalam UU Perkawinan.
Itu termasuk kendala eksternal. Selain itu, memang ada juga kendala internal, yakni belum siap mental dan belum punya biaya. Inilah dilema bagi remaja. Maka jangan heran bila kemudian jalan keluar bagi remaja untuk menyalurkan naluri yang tidak tertahankan itu mereka memilih melakukan seks bebas. Sehingga, makin menambah keyakinannya bahwa MBA adalah jalan terbaik bila saat pacaran mereka kebablasan. Bukan tak mungkin pula bila kemudian ada remaja yang nekat menghamili pacarnya bila hubungan mereka tak direstui oleh ortunya. Dan ini sebagai bukti bahwa ternyata nikah dipersulit kecuali kalau “kecelakaan”.
Kendala internal insyaAllah masih bisa dicari jalan keluarnya. Tapi kalau sudah kendala eksternal itu sulit. karena melibatkan komponen yang lebih rumit dan sulit diajak kompromi.
Inilah salah satu produk kapitalisme, yang memang membolehkan setiap individu untuk berbuat sesukanya, sebab semuanya dijamin dengan kebebasan bertingkah laku yang ada dalam peraturan HAM. Inilah rusaknya sistem demokrasi.
Dalam ajaran agama kita telah diatur dengan jelas, bagaimana seharusnya kita bersikap dan bertingkah laku. Tentu supaya kita selamat di dunia dan di akhirat. Jadi sebetulnya, nikah dalam usia dini lebih baik dari pada MBA. Nikah ibadah, gaul bebas maksiat. Namun, bila kita masih belum mampu ke arah sana. Lebih baik hindari pacaran, seringlah berpuasa, dan fokus belajar
Faktor- faktor yang mempengaruhi terjadinya perkawinan dalam usia muda:
1. Menurut RT. Akhmad Jayadiningrat, sebab-sebab utama dari perkawinan usia muda adalah:
a. Keinginan untuk segera mendapatkan tambahan anggota keluarga
b. Tidak adanya pengertian mengenai akibat buruk perkawinan terlalu muda, baik bagi mempelai itu sendiri maupun keturunannya.
c. Sifat kolot orang jawa yang tidak mau menyimpang dari ketentuan adat. Kebanyakan orang desa mengatakan bahwa mereka itu mengawinkan anaknya begitu muda hanya karena mengikuti adat kebiasaan saja.
2. Terjadinya perkawinan usia muda menurut Hollean dalam Suryono disebabkan oleh:
a. Masalah ekonomi keluarga
b. Orang tua dari gadis meminta masyarakat kepada keluarga laki-laki apabila mau mengawinkan anak gadisnya.
c. Bahwa dengan adanya perkawinan anak-anak tersebut, maka dalam keluarga gadis akan berkurang satu anggota keluarganya yang menjadi tanggung jawab (makanan, pakaian, pendidikan, dan sebagainya) (Soekanto, 1992 : 65).
Selain menurut para ahli di atas, ada beberapa faktor yang mendorong terjadinya perkawinan usia muda yang sering dijumpai di lingkungan masyarakat kita yaitu :
a. Ekonomi
Perkawinan usia muda terjadi karena keadaan keluarga yang hidup di garis kemiskinan, untuk meringankan beban orang tuanya maka anak wanitanya dikawinkan dengan orang yang dianggap mampu.
b. Pendidikan
Rendahnya tingkat pendidikan maupun pengetahuan orang tua, anak dan masyarakat, menyebabkan adanya kecenderungan mengawinkan anaknya yang masih dibawah umur.
c. Faktor orang tua
Orang tua khawatir kena aib karena anak perempuannya berpacaran dengan laki-laki yang sangat lengket sehingga segera mengawinkan anaknya.
d. Media massa
Gencarnya ekspose seks di media massa menyebabkan remaja modern kian Permisif terhadap seks.
e. Faktor adat
Perkawinan usia muda terjadi karena orang tuanya takut anaknya dikatakan perawan tua sehingga segera dikawinkan.
Did you like this? Share it: